Antisipasi Tsunami dengan Satelit Radar
Last Updated on Friday, 26 March 2010 16:45
Written by Ruby Mangunsong
Friday, 29 February 2008 16:01
Sumber: Kompas 29-02-08
Jakarta, Kompas - Penginderaan jauh dengan radar akan dipakai untuk membantu pembuatan peta topografi kawasan pantai barat Sumatera. Peta ini diperlukan untuk penataan ruang wilayah dan penetapan jalur evakuasi untuk mengantisipasi terjangan tsunami di kawasan rawan tsunami itu.
Hal ini dikemukakan Fahmi Amhar, Kepala Balai Penelitian Geomatika Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, Kamis (28/2) di Jakarta. Saat ini, ada beberapa cara untuk melakukan penginderaan jarak jauh (inderaja) dengan sistem radar, yaitu dengan satelit dan dengan pesawat terbang.
Inderaja dengan radar dipilih karena pencitraannya menggunakan gelombang radio yang tak tergantung cahaya dan dapat menembus awan, urai Fahmi.
Sebagai wilayah tropis yang sebagian besar diliputi lautan, atmosfer Indonesia kerap tertutup awan sebagai akibat penguapan massa air oleh sinar matahari. Hal ini menyulitkan pemantauan atau inderaja sumber daya alam.
Mengatasi kendala itu, jelas Sekretaris Utama Bakosurtanal Sukendra Martha, di Jakarta, pihaknya telah lama memanfaatkan hasil citra satelit radar yang dapat menembus awan.
Beberapa satelit radar yang digunakan antara lain Radarsat (Kanada), ERS (Uni Eropa), JERS dan ALOS (Jepang), Envisat (Amerika Serikat), SRTM (Konsorsium Jerman-AS), dan sistem Ifsar yang menggunakan pesawat terbang. Satelit radar ini memiliki resolusi paling besar 10 meter.
Mulai Desember 2007, Jerman memperkenalkan satelit radar generasi barunya, disebut TerraSAR-X. Kelebihan satelit ini adalah mampu mencitrakan obyek di bumi hingga resolusi satu meter.












