Menyingkap Berkah di Bawah Laut
Last Updated on Friday, 26 March 2010 16:44
Written by Ruby Mangunsong
Wednesday, 13 February 2008 15:25
Sumber: Kompas 13-02-08
YUNI IKAWATI
Gempa dan tsunami di Aceh yang terdahsyat sepanjang abad ini menimbulkan bencana kematian dan kerusakan yang amat besar. Dibalik musibah itu ternyata terpendam berkah. Di bawah dasar perairan Pulau Simeulue ditemukan kandungan hidrokarbon dalam jumlah yang juga amat besar. Volumenya mencapai maksimal 320,79 miliar barrel.
Sumber hidrokarbon itu terdeteksi dengan alat seismik di kapal riset milik Jerman, Sonne, yang melakukan survei geologi dan geofisika kelautan pascatsunami Aceh. Survei tersebut dilaksanakan Bundestalt fur Geowisseschaften und Rohstoffe (BGR) bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Volume itu merepresentasikan ruang dalam batuan. Belum tentu seluruh pori-pori batuan itu terisi senyawa hidrokarbon yang berupa minyak dan gas karena ruang dalam batuan dipengaruhi faktor lain, seperti indeks saturasi air, papar Yusuf Surachman, peneliti BPPT yang ikut serta dalam survei tersebut.
Pakar perminyakan dari Institut Teknologi Bandung, Rudi Rubiandini, menambahkan, hidrokarbon seperti metana (CH4) dan etana (C2H6) terperangkap menjadi cairan, bahkan padatan, atau mengkristal karena dasar laut memiliki suhu yang sangat dingin. Hidrokarbon itu bisa saja terbentuk akibat deformasi fosil hewan-hewan laut dan plankton yang terpendam ribuan hingga jutaan tahun lalu.
Survei kelautan
Penemuan cekungan raksasa hidrokarbon itu sebenarnya tak sengaja. Survei di perairan timur laut Pulau Simeulue semula bertujuan untuk mengetahui secara detail mekanisme terjadinya gempa dan tsunami serta melihat deformasi struktur geologi di daerah busur muka atau daerah yang berhadapan dengan pertemuan lempeng dunia












